Oleh: maulana's blog | Februari 21, 2012

Sejarah Perkembangan Ushul Fiqh.

I. PAENDAHULUAN
. Latar Belakang
Sebagaimana ilmu keagamaan lain dalam Islam, ilmu ushul fiqh tumbuh dan berkembang dengan tetap berpijak pada Al-Quran dan Sunnah, ushul fiqh tidak timbul dengan sendirinya, tetapi benih-benihnya sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW dan sahabat. Masalah utama yang menjadi bagian ushul fiqh, seperti ijtihad, qiyas, nasakh, dan takhsis sudah ada pada zaman Rosulullah SAW dan sahabat. Di masa Rasulullah SAW, umat Islam tidak memerlukan kaidah-kaidah tertentu dalam memahami hukum-hukum syar’i, semua permasalahan dapat langsung merujuk kepada Rasulullah SAW lewat penjelasan beliau mengenai Al-Qur’an, atau melalui sunnah Rasulullah SAW.

Pada masa tabi’in cara meng-istinbath hukum semakin berkembang. Di antara mereka ada yang menempuh metode maslalah atau metode qiyas di samping berpegang pula pada fatwa sahabat sebelumnya. Pada masa tabi’in inilah mulai tampak perbedaan-perbedaan mengenai hukum sebagai konskuensi logis dari perbedaan metode yang digunakan oleh para ulama ketika itu. ( Abu Zahrah : 12 ).

Corak perbedaan pemahaman lebih jelas lagi pada masa sesudah tabi’in atau pada masa Al-Aimmat Al-Mujtahidin. Sejalan dengan itu, kaidah-kaidah istinbath yang digunakan juga semakin jelas bentuknya bentuknya. Abu Hanifah misalnya menempuh metode qiyas dan istihsan. Sementara Imam Malik berpegang pada amalan mereka lebih dapat dipercaya dari pada hadis ahad (Abu Zahrah: 12).

Apa yang dikemukakan diatas menunjukkan bahwa sejak zaman Rasulullah SAW., sahabat, tabi’in dan sesudahnya, pemikiran hukum Islam mengalami perkembangan. Namun demikian, corak atau metode pemikiran belum terbukukan dalam tulisan yang sistematis. Dengan kata lain, belum terbentuk sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan ushul fiqh pada masa Rasulullah SAW?
2. Bagaimana perkembangan ushul fiqh pada masa sahabat dan tabi’in?
3. Bagaimana pembukuan ushul fiqh?
4. Bagaimana tahap-tahap perkembangan ushul fiqh?

C. Tujuan Penulisan
Dalam penulisan makalah ini kami mencoba mengulas tuntas tentang sejarah perkembangan ushul fiqh mulai zaman Rasulullah SAW hingga sampai ushul fiqh menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri. Agar kita mengerti tentang sejarahnya dan dapat bermanfaat bagi semua orang khususnya umat Islam.

II. PEMBAHASAN
D. Perkembangan ushul fiqh pada masa Rasulullah SAW.
Ushul fiqh tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya fiqh. Dimana terdapat fiqh disitulah terdapat manhaj al-istinbath. Dimana terdapat manhaj al-istinbath disitulah terdapat ushul fiqh. Ushul fiqh sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri sebagaimana yang kita kenal sekarang ini pada masa Rasulullah SAW belum dikenal. Hal ini dapat dimengerti karena pada masa itu Rasulullah SAW dalam memberikan fatwa dan menetapkan hukum dapat secara langsung mengambil nash Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya atau beliau menjelaskan dengan sunnahnya yang pada hakikatnya juga merupakan wahyu.
Pada masa Rasulullah SAW ushul fiqh seperti sekarang ini belum diperlukan, sebab Rasulullah SAW dan para sahabat dapat memahami secara langsung hukum yang ditetapkan Al-Qur’an. Rasulullah SAW pada masa hayatnya menempati posisi sentral, beliau sebagai muballigh, peletak syari’at, pemberi penjelasan (mufassir), pemberi fatwa, qadhi dan imam.
Risalah yang beliau terima dari Allah SWT kemudian disampaikan kepada umat manusia untuk menegakkan kemaslahatan dan menolak kerusakan guna terciptanya suasana kehidupan yang harmonis dalam tatanan pergaulan sosial. Nabi Muhammad SAW disamping sebagai penyampai risalah, beliau juga pemberi fatwa dan sekaligus sebagai legislator yang berdasarkan wahyu Tuhan dan atau penjelasan-penjelasan dari beliau sendiri melalui sunnahnya tanpa memerlukan kaidah-kaidah ushul sebagaimana yang diciptakan oleh para ulama kemudian. Dengan demikian pada periode Rasul SAW ini sumber hukum ada dua yaitu: Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyat yang berfungsi sebagai bayan terhadap Al-Qur’an, baik sebagai bayan tafsir, bayan taukid, bayan taqrir maupun bayan tasyri’.
Apabila suatu kasus terjadi, Rasulullah SAW menunggu turunnya wahyu yang menjelaskan hukum kasus tersebut. Apabila wahyu tidak turun, maka Rasulullah SAW menetapkan hukum kasus tersebut melalui sabdanya, yang kemudian dikenal dengan hadits atau sunnah.
Hal ini antara lain dapat diketahui dari sabda Rasulullah SAW sebagai berikut:
“Sesungguhnya saya memberikan keputusan kepada kamu melalui pendapatku dalam hal-hal yang tidak diturunkan wahyu kepadaku.” (HR. Abu Daud dari Ummu Salamah)
Hasil ijtihad Rasulullah ini secara otomatis menjadi sunnah bagi Umat Islam. Hadits tentang pengutusan Mu’az Ibn Jabal ke Yaman sebagai qadi, menunjukkan perijinan yang luas untuk melakukan ijtihad hukum pada masa Nabi. Dalam pengutusan ini Nabi bersabda yang artinya :
“Bagaimana engkau (Mu’az) mengambil suatu keputusan hukum terhadap permasalahan hukum yang diajukan kepadamu? Jawab Mu’az saya akan mengambil suatu keputusan hukum berdasarkan kitab Allah (Al-Quran). Kalau kamu tidak menemukan dalam kitab Allah? Jawab Mu’az, saya akan mengambil keputusan berdasarkan keputusan berdasarkan sunnah Rasulullah. Tanya Nabi, jika engkau tidak ketemukan dalam sunnah? Jawab Mu’az, saya akan berijtihad, dan saya tidak akan menyimpang. Lalu Rasulullah menepuk dada Mu’az seraya mengatakan segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik utusan Rasulnya pada sesuatu yang diridhai oleh Allah dan Rasulnya.”
Hadits ini secara tersurat tidak menunjukkan adanya upaya Nabi untuk mengembangkan Ilmu Ushul fiqh, tapi secara tersirat jelas Nabi telah memberikan keluasan dalam mengembangkan akal untuk menetapkan hukum yang belum tersurat dalam Al-Quran dan Sunnah.
Artinya dengan keluwesannya Nabi dalam melakukan pemecahan masalah-masalah ijtihadiyah telah memberikan legalitas yang kuat terhadap para sahabat. Dalam sebuah haditsnya yang mengandung kebolehan bagi manusia untuk mencari solusi terhadap urusan-urusan keduniaan Rasulullah SAW bersabda :
“Kamu lebih mengetahui tentang urusan duniamu.”
Dorongan untuk melakukan ijtihad itu tersirat juga dalam hadits yang menjelaskan tentang pahala yang diperoleh seseorang yang melakukan ijtihad sebagai upaya yang sungguh-sungguh dalam mencurahkan pemikiran baik hasil usahanya benar atau salah.
Selain dalam bentuk anjuran dan pembolehan ijtihad di atas, Rasulullah SAW sendiri pada dasarnya telah memberikan isyarat terhadap kebolehan melakukan ijtihad setidak-tidaknya dalam bentuk qiyas sebagaimana dapat kita temukan dalam hadits-haditnya sebagai berikut :
“Seorang wanita namanya Khusaimiah datang kepada Nabi dan bertanya, Ya Rasulullah ayah saya seharusnya telah menunaikan haji, dia tidak kuat duduk dalam kendaraan karena sakit, Apakah saya harus melakukan haji untuknya? Jawab Rasulullah dengan bertanya bagaimana pendapatmu bila Ayahmu mempunyai utang? Apakah engkau harus membayar? Perempuan itu menjawab , Ya, Nabi berkata utang kepada Allah lebih utama untuk dibayar.”
Hadits ini menggambarkan upaya qiyas yang dilakukan oleh Nabi, yaitu ketika seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW yang menanyakan tentang keharusan penunaian kewajiban ibadah haji bapaknya yang mengidap sakit, Rasulullah SAW menegaskan keharusan penunaiannya dengan melakukan peng-qiyas-an terhadap pembayaran utang antara sesama manusia.
Ada satu hal yang perlu dicatat, kehadiran Rasulullah SAW sebagai pemegang otoritas tunggal dalam permasalahan-permasalahan hukum membuat Rasulullah SAW sangat berhati-hati disatu pihak, dan terbuka dipihak lain. Sikap hati-hati yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dalam rangka penerapan hukum Islam bidang ibadah. Penjelasan Rasulullah SAW yang berkaitan dengan ini cukup rinci. Wahyu memegang peranan sangat penting. Sikap terbuka yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dalam upaya pengembangan hukum Islam bidang muamalah.
Berbeda dengan ibadah, dalam muamalah penjelasan Rasulullah SAW lebih banyak bersifat garis besar, sedangkan perincian dan penjelasan pelaksanaannya diserahkan kepada manusia. Manusia dengan akal yang dianugerahkan kepadanya diberi peranan lebih banyak. Artinya, ini pulalah salah satu faktor yang ikut mendukung terhadap pertumbuhan ilmu ushul fiqh selanjutnya.
Dalam beberapa kasus, Rasulullah SAW juga menggunakan qiyas ketika menjawab pertanyaan para sahabat. Misalnya ketika menjawab pertanyaan Umar Ibn Khatab tentang batal atau tidaknya puasa seseorang yang mencium istrinya. Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila kamu berkumur-kumur dalam keadaan puasa, apakah puasamu batal?” Umar menjawab:”Tidak apa-apa” (tidak batal). Rasulullah kemudian bersabda “maka teruskan puasamu.” (HR al-Bukhari, muslim, dan Abu Dawud).
Hadits ini mengidentifikasikan kepada kita bahwa Rasulullah SAW jelas telah menggunakan qiyas dalam menetapkan hukumnya, yaitu dengan meng-qiyas-kan tidak batalnya seseorang yang sedang berpuasa karena mencium istrinya sebagaimana tidak batalnya puasa karena berkumur-kumur.

E. Perkembangan Ushul Fiqh pada Masa Sahabat dan Tabi’in
1. Pada Masa Sahabat
Kalau pada masa Rasulullah SAW masih hidup, para sahabat dapat bertanya langsung kepada beliau tentang persoalan-persoalan yang dihadapi, namun sepeninggal beliau muncul persoalan-persoalan baru yang tadinya belum pernah dialami. Untuk menentukan hukum terhadap persoalan-persoalan baru itu para sahabat memberikan fatwa dan menetapkan hukum pada dalil-dalil nash yang mereka pahami berdasarkan kemampuan mereka dalam memahami bahasa Arab tanpa memerlukan kaidah-kaidah bahasa yang dijadikan pedoman dalam memahami nash. Mereka juga menetapkan hukum terhadap peristiwa-peristiwa yang tidak dijumpai nash-nya secara langsung dengan berdasarkan kemampuan mereka dalam memahami perkembangan pembinaan hukum Islam lantaran pergaulan mereka dengan Rasulullah SAW. Disamping itu, mereka juga menyaksikan sebab-sebab turunnya ayat dan wurud-nya hadis nabi. Mereka memahami tujuan dan dasar-dasar pembentukan hukum.
Para sahabat mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang Al-Qur’an, Al-Sunnah, bahasa Arab dan sebab-sebab turunnya, rahasia-rahasia dan tujuan syara’. Pengetahuan ini disebabkan karena pergaulan mereka dengan Rasulullah SAW dan dapat menyaksikan kasus-kasus yang terjadi disamping kecerdasan mereka sendiri. Karena itu, mereka tidak memerlukan peraturan-peraturan dalam meng-istinbath-kan hukum seperti halnya mereka tidak memerlukan kaidah-kaidah untuk mengetahui bahasa Arab.
Memang, semenjak masa sahabat telah timbul persoalan-persoalan baru yang menuntut ketetapan hukumnya. Untuk itu para sahabat ber-ijtihad, mencari ketetapan hukumnya. Setelah wafat Rasulullah SAW sudah barang tentu berlakunya hasil ijtihad para sahabat pada masa ini, tidak lagi disahkan oleh Rasulullah SAW, sehingga dengan demikian semenjak masa sahabat ijtihad sudah merupakan sumber hukum.
Sebagai contoh hasil ijtihad para sahabat, yaitu : Umar bin Khattab RA tidak menjatuhkan hukuman potong tangan kepada seseorang yang mencuri karena kelaparan (darurat/terpaksa). Dan Ali bin Abi Thalib RA berpendapat bahwa wanita yang suaminya meninggal dunia dan belum dicampuri serta belum ditentukan maharnya, hanya berhak mendapatkan mut’ah. Ali menyamakan kedudukan wanita tersebut dengan wanita yang telah dicerai oleh suaminya dan belum dicampuri serta belum ditentukan maharnya, yang oleh syara’ ditetapkan hak mut’ah baginya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang artinya :
“Tidak ada sesuatupun (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu memberikan mut’ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-Baqarah : 236).
Dari contoh-contoh ijtihad yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, demikian pula oleh para sahabatnya baik di kala Rasulullah SAW masih hidup atau setelah beliau wafat, tampak adanya cara-cara yang digunakannya, sekalipun tidak dikemukakan dan tidak disusun kaidah-kaidah (aturan-aturan) nya sebagaimana yang kita kenal dalam Ilmu Ushul fiqh, karena pada masa Rasulullah SAW, demikian pula pada masa sahabatnya, tidak dibutuhkan adanya kaidah-kaidah dalam ber-ijtihad dengan kata lain pada masa Rasulullah SAW dan pada masa sahabat telah terjadi praktek ber-ijtihad, hanya saja pada waktu-waktu itu tidak disusun sebagai suatu ilmu yang kelak disebut dengan Ilmu Ushul fiqh karena pada waktu-waktu itu tidak dibutuhkan adanya. Yang demikian itu, karena Rasulullah SAW mengetahui cara-cara nash dalam menunjukkan hukum baik secara langsung atau tidak langsung, sehingga beliau tidak membutuhkan adanya kaidah-kaidah dalam ber-ijtihad, karena mereka mengetahui sebab-sebab turun (asbabun nuzul) ayat-ayat Al-Qur’an, sebab-sebab datang (asbabul wurud) Al-Hadits, mempunyai ketajaman dalam memahami rahasia-rahasia, tujuan dan dasar-dasar syara’ dalam menetapkan hukum yang mereka peroleh karena mereka mempunyai pengetahuan yang luas dan mendalam terhadap bahasa mereka sendiri (Arab) yang juga bahasa Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan pengetahuan yang mereka miliki itu, mereka mampu ber-ijtihad tanpa membutuhkan adanya kaidah-kaidah.

2. Pada Masa Tabi’in
Setelah periode sahabat berlalu, kemudian diteruskan oleh periode berikutnya yaitu tabi’in. Pada periode ini imam-imam mujtahid telah tersebar ke beberapa negeri dan telah terpengaruh pula oleh lingkungan serta cara berpikir yang berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap pola penetapan hukum. Karena itulah masing-masing mujtahid melakukan ijtihad menurut metodenya sendiri yang dianggap benar.
Pada periode ini golongan tabi’in harus bertindak sebagai mufti. Di Madinah misalnya tampil bintang-bintang ulama terkenal dengan sebutan fuqaha sab’ah yaitu; Sa’id bin Musayyab, al-Qasim bin Muhammad, ‘Urwah bin Zaid, Kharijah bin Zaid, Abu Bakar bin Abdir-Rahman, Sulaiman bin Yassar dan ‘Ubaidillah bin ‘Utbah bin Mas’ud. Sedang di Kufah muncul pula mufti-mufti yang memiliki reputasi mengagumkan seperti; Al-Qamah bin Qais an-Nakha’i, Aswad bin Yazid an-Nakha’i, Amr bin Syurahbil al Hamdani, Syuraih bin Harits al-Qadhi dan lainnya.
Pada masa tabi’in, tabi’it-tabi’in dan para imam mujtahid, di sekitar abad II dan III Hijriyah wilayah kekuasaan Islam telah menjadi semakin luas, sampai ke daerah-daerah yang dihuni oleh orang-orang yang bukan bangsa Arab atau tidak berbahasa Arab dan beragam pula situasi dan kondisinya serta adat istiadatnya. Banyak diantara para ulama yang bertebaran di daerah-daerah tersebut dan tidak sedikit penduduk daerah-daerah itu yang memeluk agama Islam. Dengan semakin tersebarnya agama Islam di kalangan penduduk dari berbagai daerah tersebut, menjadikan semakin banyak persoalan-persoalan hukum yang timbul. Yang tidak didapati ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Untuk itu para ulama yang tinggal di berbagai daerah itu ber-ijtihad mencari ketetapan hukumnya.
Karena banyaknya persoalan-persoalan hukum yang timbul dan karena pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang yang berkembang dengan pesat yang terjadi pada masa ini, kegiatan ijtihad juga mencapai kemajuan yang besar dan lebih bersemarak.
Pada masa ini juga semakin banyak terjadi perbedaan dan perdebatan antara para ulama mengenai hasil ijtihad, dalil dan jalan-jalan yang ditempuhnya. Perbedaan dan perdebatan tersebut, bukan saja antara ulama satu daerah dengan daerah yang lain, tetapi juga antara para ulama yang sama-sama tinggal dalam satu daerah. Kenyataan-kenyataan di atas mendorong para ulama untuk menyusun kaidah-kaidah syari’ah yakni kaidah-kaidah yang bertalian dengan tujuan dan dasar-dasar syara’ dalam menetapkan hukum dalam ber-ijtihad.
Demikian pula dengan semakin luasnya daerah kekuasan Islam dan banyaknya penduduk yang bukan bangsa Arab memeluk agama Islam. Maka terjadilah pergaulan antara orang-orang Arab dengan mereka. Dari pergaulan antara orang-orang Arab dengan mereka itu membawa akibat terjadinya penyusupan bahasa-bahasa mereka ke dalam bahasa Arab, baik berupa ejaan, kata-kata maupun dalam susunan kalimat, baik dalam ucapan maupun dalam tulisan. Keadaan yang demikian itu, tidak sedikit menimbulkan keraguan dan kemungkinan-kemungkinan dalam memahami nash-nash syara’. Hal ini mendorong para ulama untuk menyusun kaidah-kaidah lughawiyah (bahasa), agar dapat memahami nash-nash syara’ sebagaimana dipahami oleh orang-orang Arab sewaktu turun atau datangnya nash-nash tersebut. Dengan disusunnya kaidah-kaidah syar’iyah dan kaidah-kaidah lughawiyah dalam ber-ijtihad pada abad II Hijriyah, maka telah terwujudlah Ilmu Ushul fiqh.
Mulai periode ini nampaklah manhaj-manhaj yang ditempuh mereka secara lebih nyata dan jelas daripada dua periode sebelumnya. Aliran-aliran fiqh yang tumbuh pada periode ini membuat metode- metode tersendiri yang berbeda satu sama lain. Fuqaha-fuqaha Madinah memperhatikan maslahat mursalat apabila tidak menemukan nash. Golongan ini dipengaruhi oleh pemikiran Umar bin Khattab dan sahabat lain yang mempergunakan manhaj ini. Fuqaha di Kufah-Irak menggunakan qiyas mengikuti jejak Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas’ud. Kedua sahabat ini banyak menggunakan qiyas. Perbedaan metode dalam menetapkan hukum tersebut akhirnya melahirkan aliran-aliran tertentu yang dikenal dengan aliran Ahli Hadits dengan tokohnya Imam Malik yang berpusat di Madinah dan aliran Ahli Qiyas yang berpusat di Kufah dengan tokoh utamanya Imam Abu Hanifah.
Kaidah-kaidah istinbath yang telah dipegangi oleh para mujtahid baik pada masa sahabat maupun masa tabi’in merupakan cikal bakal lahirnya ushul fiqh yang pada gilirannya menjadi satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Pada periode tabi’in ini sumber tasyri’ terdiri atas; Al-Qur’an, Sunnah Rasul, Aqwalush Shahabat dan Ijtihad.
Diterangkan oleh Abdul Wahhab Khallaf, bahwa ulama yang pertama kali membukukan kaidah-kaidah Ilmu Ushul fiqh dengan disertai alasan-alasannya adalah Muhammad bin Idris asy-Syafi’iy (150-204 H) dalam sebuah kitab yang diberi nama Ar-Risalah. Kitab tersebut adalah kitab dalam bidang Ilmu Ushul fiqh yang pertama sampai kepada kita. Imam Asy-Syafi’i meletakkan pedoman dan kerangka berpikir yang menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan mujtahid dalam merumuskan hukum dari dalilnya. Metode berpikir yang dirumuskan Imam Asy-Syafi’i itulah yang kemudian disebut dengan “Ushul Fiqh”. Meskipun sebelum itu telah muncul imam-imam mujtahid yang merumuskan metode fiqh, namun ketika itu belum tersusun secara sistematis sebagai ilmu yang berdiri sendiri.
Metode berpikir Asy-Syafi’i itu kemudian dikembangkan oleh pengikut-pengikutnya secara utuh, sementara ulama Hanafiah mengambil sebagian pemikiran Asy-Syafi’i dengan pengembangan konsep istihsan dan urf. Kelompok Malikiyah juga demikian dengan pengembangan konsep Maslahat Mursalah dan Sad al-Dzara’i. Dengan demikian konsep yang dikembangkan itu, pada perkembangan berikutnya melahirkan aliran-aliran ushul fiqh yang berbeda.

F. Pembukuan Ushul Fiqh
Salah satu yang mendorong diperlukannya pembukuan ushul fiqh adalah perkembangan wilayah Islam yang semakin luas, sehingga tidak jarang menyebabkan timbulnya berbagai persoalan yang belum diketahui kedudukan hukumnya. Untuk itu, para ulama Islam sangat membutuhkan kaidah-kaidah hukum yang sudah dibukukan untuk dijadikan rujukan dalam menggali dan menetapkan hukum.
Sebenarnya, jauh sebelum dibukukannya ushul fiqh, ulama-ulama terdahulu telah membuat teori-teori ushul yang dipegang oleh para pengikutnya masing-masing. Tak heran jika pengikut para ulama tersebut mengklaim bahwa gurunyalah yang pertama menyusun kaidah-kaidah ushul fiqh .
Golongan Hanafiyah misalnya mengklaim bahwa yang pertama menyusun ilmu Ushul fiqh ialah Abu Hanifah, Abu Yusuf Dan Ibnu Ali-Al Hasan. Alasan mereka bahwa Abu Hanifah merupakan orang yang pertama menjelaskan metode istinbath dalam kitabnya Ar-Ra’yu. Dan Abu Yusuf Abu Yusuf adalah orang yang pertama menyusun ushul fiqh dalam madzhab hanafi, demikian pula Muhammad Ibnu Al-Hasan telah menyusun ushul fiqh sebelum As-Syafi’i, bahkan As-Syafi’i berguru kepadanya.
Golongan As-Syafi’iyah juga mengklaim bahwa Imam As-Syafi’i lah orang yang pertama yang menyusun kitab ushul fiqh. Hal ini di ungkapkan oleh Al-Allamah Jamal Ad-Din Abd Ar-Rohman Ibnu Hasan Al-Asnawi. Menurutnya, “tidak diperselisihkan lagi “Imam Syafi’i adalah tokoh besar yang pertama-tama menyusun kitab dalam ilmu ini, yaitu kitab yang tidak asing lagi dan yang sampai kepada kita sekarang, yakni kitab Al-Risalah.”
Kalau dikembalikan pada sejarah, yang pertama berbicara tentang ushul fiqh sebelum dibukukannya adalah para sahabat dan tabi’in. Hal ini tidak diperselisihkan lagi. Namun yang diperselisihkan adalah orang yang mula-mula mengarang kitab ushul fiqh sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri yang bersifat umum dan mencakup segala aspeknya. Untuk itu kita perlu mengetahui terlebih dahulu teori-teori penulisan dalam ilmu ushul fiqh. Secara garis besar ada dua teori penulisan yang dikenal yakni.
Pertama, merumuskan kaidah-kaidah fiqiyah bagi setiap bab dalam bab fiqh dan menganalisisnya serta mengaplikasikan masalah furu’ atas kaidah-kaidah tersebut. Teori inilah yang ditempuh oleh golongan Hanafi dan merekalah yang merintisnya.
Kedua, merumuskan kaidah-kaidah yang dapat menolong seorang mujtahid dan meng-istinbat hukum dari sumber hukum syar’i, tanpa terikat oleh pendapat seorang faqih atau suatu pemahaman yang sejalan dengannya maupun yang bertentangan. Cara inilah yang ditempuh Imam Syafi’i dalam kitabnya Ar-Risalah, suatu kitab yang tersusun secara sempurna dalam bidang ilmu ushul dan independen. Kitab seperti ini belum ada sebelumya, menurut ijma’ ulama dan catatan sejarah (sulaiman:64).

G. Tahapan Perkembangan Ushul Fiqh
Secara garis besarnya, ushul fiqh dapat di bagi dalam tiga tahapan yaitu:
1. Tahap awal (abad 3 H)
pada abad 3 H di bawah pemerintahan Abassiyah wilayah Islam semakin meluas kebagian timur.khalifah-khalifah yang berkuasa dalam abad ini adalah : Al-Ma’mun (w.218H), Al-Mu’tashim (w.227H), Al Wasiq (w.232H), dan Al-Mutawakil (w.247H) pada masa mereka inilah terjadi suatu kebangkitan ilmiah dikalangan Islam yang dimulai dari kekhalifahan Arrasyid. salah satu hasil dari kebangkitan berfikir dan semangat keilmuan Islam ketika itu adalah berkembangnya bidang fiqh yang pada giliranya mendorong untuk disusunya metode berfikir fiqh yang disebut ushul fiqh .
Seperti telah dikemukakan, kitab ushul fiqh yang pertama-tama tersusun secara utuh dan terpisah dari kitab-kitab fiqh ialah Ar-Risalah karangan As-Syafi’i. Kitab ini dinilai oleh para ulama sebagai kitab yang bernilai tinggi. Ar-Razi berkata “kedudukan As-Syafi’i dalam ushul fiqh setingkat dengan kedudukan Aristo dalam ilmu Manthiq dan kedudukan Al-Khalil Ibnu Ahmad dalam ilmu Ar-rud”.
Ulama sebelum As-Syafi’i berbicara tentang masalah-masalah ushul fiqh dan menjadikanya pegangan, tetapi mereka belum memperoleh kaidah-kaidah umum yang menjadi rujukan dalam mengetahui dalil-dalil syari’at dan cara memegangi dan cara men-tarjih kanya: maka datanglah Al-Syafi’i menyusun ilmu ushul fiqh yang merupakan kaidah-kaidah umum yang dijadikan rujukan-rujukan untuk mengetahui tingkatan-tingkatan dalil syar’i, kalaupun ada orang yang menyusun kitab ilmu ushul fiqh sesudah Asy-Syafi’i, mereka tetap bergantung pada Asy-Syafi’i karena Asy-Syafi’i-lah yang membuka jalan untuk pertama kalinya.
Selain kitab Ar-Risalah pada abad 3 H telah tersusun pula sejumlah kitab ushu fiqh lainnya. Isa Ibnu Iban (w.221H/835 M) menulis kitab Itsbat Al-Qiyas. Khabar Al-Wahid, Ijtihad Ar-Ra’yu. Ibrahim Ibnu Syiar Al-Nazham (w.221H/835M) menulis kitab An-Nakl dan sebagainya.
Namun perlu diketahui pada umumnya kitab ushul-fiqh yang ada pada abad 3 H ini tidak mencerminkan pemikiran-pemikiran ushul fiqh yang utuh dan mencakup segala aspeknya kecuali kitab Ar-Risalah itu sendiri. Kitab Ar-Risalah lah yang mencakup permasalahan-permasalahan ushuliyah yang menjadi pusat perhatian Para Fuqoha pada zaman itu.
Disamping itu, pemikiran ushuliyah yang telah ada, kebanyakan termuat dalam kitab-kitab fiqh, dan inilah salah satu penyebab pengikut ulama-ulama tertentu mengklaim bahwa Imam Madzhabnya sebagai perintis pertama ilmu ushul fiqh tersebut. Golongan Malikiyah misalnya mengklaim imam madzhabnya sebagai perintis pertama ushul fiqh dikarenakan Imam Malik telah menyinggung sebagian kaidah-kaidah ushuliyyah dalam kitabnya Al Muwatha. Ketika ia ditanya tentang kemungkinan adanya dua hadits shoheh yang berlawanan yang datang dari Rasulluloh pada saat yang sama, Malik menolaknya dengan tegas, karena ia berperinsip bahwa kebenaran itu hanya terdapat dalam satu hadits saja

2. Tahap Perkembangan (Abad 4 H)
Pada masa ini abad 4 H merupakan abad permulaan kelemahan Dinasty Abassiyah dalam bidang politik. Dinasty Abasiyah terpecah menjadi daulah-daulah kecil yang masing-masing dipimpin oleh seorang sultan. Namun demikian tidak berpengaruh terhadap perkembangan semangat keilmuan di kalangan para ulama ketika itu karena masing-masing penguasa daulah itu berusaha memajukan negrinya dengan memperbanyak kaum intelektual.
Khusus dibidang pemikiran fiqh Islam pada masa ini mempunyai karakteristik tersendiri dalam kerangka sejarah tasyri’ Islam. Pemikiran liberal Islam berdasarkan ijtihad muthlaq berhenti pada abad ini. mereka mengangagap para ulama terdahulu mereka suci dari kesalahan sehingga seorang faqih tidak mau lagi mengeluarkan pemikiran yang khas, terkecuali dalam hal-hal kecil saja, akibatnya aliran-aliran fiqh semakin mantap eksitensinya, apa lagi disertai fanatisme dikalangan penganutnya. Hal ini ditandai dengan adanya kewajiban menganut madzhab tertentu dan larangan melakukan berpindahan madzhab sewaktu-waktu.
Namun demikian, keterkaitan pada imam-imam terdahulu tidak dikatakan taqlid, karena masing-masing pengikut madzhab yang ada tetap mengadakan kegiatan ilmiah guna menyempurnakan apa yang dirintis oleh para pendahulunya dengan melakukan usaha antara lain:
a. Memperjelas ilat-ilat hukum yang di-istinbath-kan oleh para imam mereka yang disebut ulama takhrij
b. Men-tarjih-kan pendapat-pendapat yang berbeda dalam madzhab baik dalam segi riwayat dan dirayah.
c. Setiap golongan mentarjihkanya dalam berbagai masalah khilafiyah. Mereka menyusun kitab al-khilaf
Akan tetapi tidak bisa di ingkari bahwa pintu ijtihad pada periode ini telah tertutup, akibatnya dalam perkembangan fiqh Islam adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan para ulama terbatas terbatas dalam menyampaikan apa yang telah ada, mereka cenderung hanya mensyarahkan kitab-kitab terdahulu atau memahami dan meringkasnya.
b. Menghimpun masalah-masalah furu yang sekian banyaknya dalam uraian yang singkat
c. Memperbanyak pengandaian-pengandaian dalam beberapa masalah permasalahan.
Keadaan tersebut sangat, jauh berbeda di bidang ushul fiqh . Terhentinya ijtihad dalam fiqh dan adanya usaha-usaha untuk meneliti pendapat-pendapat para ulama terdahulu dan men-tarjih-kannya. Justru memainkan peranan yang sangat besar dalam bidang ushul fiqh.
Sebagai tanda berkembangnya ilmu ushul fiqh dalam abad 4 H ini ditandai dengan munculnya kitab-kitab ushul fiqh yang merupakan hasil karaya ulama-ulama fiqh diantara kitab yan terekenal adalah:
a. Kitab Ushul Al-Kharkhi, ditulis oleh Abu Al-Hasan Ubaidillah Ibnu Al-Husain Ibnu Dilal Dalaham Al-Kharkhi, (w.340 H.)
b. Kitab Al-Fushul Fi-Fushul Fi-Ushul, ditulis oleh Ahmad Ibnu Ali Abu Baker Ar-Razim yang juga terkenal dengan Al-Jasshah (305 H.)
c. Kitab Bayan Kasf Al-Ahfazh, ditulis oleh abu Muhammad Badr Ad-Din Mahmud Ibnu Ziyad Al-Lamisy Al-Hanafi.
Ada beberapa hal yang menjadi ciri khas dalam perkembangan ushul fiqh pada abad 4 H yaitu munculnya kitab-kitab ushul fiqh yang membahas ushul fiqh secara utuh dan tidak sebagian-sebagian seperti yang terjadi pada masa-masa sebelumnya. Kalaupun ada yang membahas hanya kitab-kitab tertentu, hal itu semata-mata untuk menolak atau memperkuat pandangan tertentu dalam masalah itu.
Selain itu Materi berpikir dan penulisan dalam kitab-kitab yang ada sebelumnya dan menunjukan bentuk yang lebih sempurna, sebagaimana dalam kitab Fushul-Fi Al-Ushul karya Abu Baker Ar-Razi hal ini merupakan corak tersendiri corak tersendiri dalam perkembangan ilmu ushul fiqh pada awal abad 4 H, juga tampak pula pada abad ini pengaruh pemikiranyang bercorak filsafat, khususnya metode berfikir menurut ilmu manthiq dalam ilmu ushul fiqh.

3. Tahap Penyempurnaan ( 5-6 H )
Kelemahan politik di Baghdad, yang ditandai dengan lahirnya beberapa daulah kecil, membawa arti bagi perkembangan peradaban dunia Islam. Peradaban Islam tak lagi berpusat di Baghdad, tetapi juga di kota-kota seperti Cairo, Bukhara, Ghaznah, dan Markusy. Hal itu disebabkan adanya perhatian besar dari para sultan, raja-raja penguasa daulah-daulah kecil itu terhadap perkembangan ilmu dan peradaban.
Hingga berdampak pada kemajuan di bidang ilmu ushul fiqh yang menyebabkan sebagian ulama memberikan perhatian khusus untuk mendalaminya, antara lain Al-Baqilani, Al-Qhandi, abd. Al-jabar, abd. Wahab Al-Baghdadi, Abu Zayd Ad Dabusy, Abu Husain Al Bashri, Imam Al-Haramain, Abd. Malik Al-Juwani, Abu Humaid Al Ghazali dan lain-lain. Mereka adalah pelopor keilmuan Islam di zaman itu. Para pengkaji ilmu keislaman di kemudian hari mengikuti metode dan jejak mereka, untuk mewujudkan aktivitas ilmu ushul fiqh yang tidak ada bandinganya dalam penulisan dan pengkajian keislaman, itulah sebabnya pada zaman itu, generasi Islam pada kemudian hri senantiasa menunjukan minatnya pada produk-produk ushul fiqh dan menjadikanya sebagai sumber pemikiran.
Dalam sejarah pekembangan ilmu ushul fiqh pada abad 5 H dan 6 H ini merupakan periode penulisan ushul fiqh terpesat yang diantaranya terdapat kitab-kitab yang menjadi kitab standar dalam pengkajian ilmu ushul fiqh slanjutnya. Kitab-kitab ushul fiqh yang ditulis pada zaman ini, disamping mencerminkan adanya kitab ushul fiqh bagi masing-masing madzhabnya, juga menunjukan adanya alioran ushul fiqh, yakni aliran hanafiah yang dikenal dengan aliran fuqoha, dan aliran Mutakalimin.

III. KESIMPULAN
Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan
1. Apa yang dikemukakan diatas menunjukkan bahwa sejak zaman Rasulullah saw., sahabat, tabi’in dan sesudahnya, pemikiran hukum Islam mengalami perkembangan. Namun demikian, corak atau metode pemikiran belum terbukukan dalam tulisan yang sistematis. Dengan kata lain, belum terbentuk sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri
2. Karena timbulnya berbagai persoalan yang belum diketahui hukumnya. Untuk itu, para ulama Islam sangat membutuhkan kaidah-kaidah hukum yang sudah dibukukan untuk dijadikan rujukan dalam menggali dan menetapkan hukum maka disusunlah kitab ushul fiqh.
3. Bahwa kegiatan ulama dalam penulisan ushul fiqh merupakan salah satu upaya dalam menjaga keasrian hukum syara. Dan menjabarkanya kehidupan social yang berubah-ubah itu, kegiatan tersebut dimulai pada abad ketiga hijriyah. Ushul fiqh terus berkembang menuju kesempurnaanya hingga abad kelima dan awal abad 6 H abad tersbut merupakan abad keemasan penulisan ilmu ushul fiqh Karena banyak ulama yang mmusatkan perhatianya pada bidang ushul fiqh dan juga muncul kitab-kitab fiqh yang menjadi standar dan rujukan untuk ushul fiqh selanjutnya.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Rahmat Syafi’i, Ilmu Ushul fiqh , Pustaka Setia, Bandung, 2007
Beni Ahmad Saebani, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 20


Responses

  1. tentang ushul fiqh………..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: